7 Prinsip Dasar dalam Dakwah Tauhid

Ada beberapa prinsip dasar terkait metode mendakwahkan tauhid, yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam berdakwah. Prinsip-prinsip ini adalah turunan dari prinsip besar “Tauhid sebagai prioritas utama dalam berdakwah”:

  1. Dakwah tauhid tidak boleh ditunda, tidak boleh dinomorduakan setelah dakwah yang lain, apalagi diakhirkan atau disembunyikan. Pada kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang dipaparkan dalam al-Qur’an, terdapat pelajaran berharga tentang urgensi dakwah tauhid sekaligus penyegeraan dalam penyampaiannya tanpa ada penundaan.
  2. Belum ada kepastian diraihnya simpati objek dakwah, bukanlah alasan untuk menunda atau menomorduakan dakwah tauhid. Simpati objek dakwah adalah penting, namun bukanlah tujuan. Tujuan sejati adalah memahamkan tauhid kepada mereka. Saat simpati objek dakwah dijadikan sebagai tujuan dan menjelma menjadi fokus dakwah, maka yang terjadi adalah pengebirian dakwah tauhid dan pengalihan substansi dakwah kepada apa yang disenangi oleh objek dakwah, bukan kepada apa yang mendesak mereka butuhkan (yaitu tauhid).
  3. Dakwah tauhid harus diiringi dengan sikap penuh rahmah, didasari keinginan yang kuat dan tulus agar objek dakwah mau menerima dakwah, juga harus dibarengi cara-cara yang hikmah, dengan akhlak yang mulia dan tidak sembrono memvonis objek dakwah. Tidak menunda-nunda penjelasan tentang tauhid dan syirik bukan berarti mengharuskan seorang da’i untuk memvonis “kafir”, “musyrik”, atau “sesat” objek dakwah yang terjatuh dalam penyimpangan. Cara-cara yang penuh rahmah, hikmah dan beradab sesuai yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap harus dikedepankan.
  4. Diawalkannya dakwah tauhid tidaklah bertentangan dengan upaya-upaya pendekatan yang mubah di mata Syari’at demi terwujudnya penerimaan dakwah tauhid oleh objek dakwah. Namun harus dicamkan bahwa upaya pendekatan tersebut hanyalah wasilah, sementara yang menjadi tujuan tetaplah tauhid.
  5. Tema dakwah tauhid tidaklah berbenturan dengan tema-tema dakwah yang lain. Semuanya bisa berjalan bersama dengan tetap memprioritaskan dakwah tauhid.
  6. Dakwah tauhid juga harus tetap mendapat porsi yang cukup pada objek dakwah yang sudah memahami dan menerima tauhid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kendor dalam mendakwahkan tauhid, bahkan menjelang ajal beliau masih  memperingatkan umatnya dari bahaya kesyirikan.
  7. Dakwah tentang tauhid berkonsekuensi pada dakwah tentang syirik dan cabang-cabangnya. Penjelasan tentang tauhid dan syirik, tidak bisa dipisahkan. Penjelasan apa itu syirik, apa itu kekafiran, dan detail pembatal-pembatal tauhid, tidaklah harus dengan cara-cara yang provokatif, dengan pilihan kata yang keras dan kasar, dengan mata yang melotot, atau urat leher sampai tampak yang bisa saja kemudian menimbulkan kesan di mata awam bahwa sang da’i tengah mengkafirkan orang-orang.

Forum Asatidz Lombok.

Abu Ammar

Ayah dari dua orang anak, Muhammad Ammar dan Muhammad Amru (AmmarAmru.com). Semoga Allah jadikan keduanya menjadi anak yang shalih. Belajar ilmu syar'i kepada asatidz di wilayah Indramayu, dan kuliah online di Islamic Online University.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *