Author

Abu Ammar

Browsing

Segala puji hanya milik Allah dan cukuplah pujian hanya untuk-Nya saja,

Keselamatan kepada hamba-hamba Nya yang telah Dia pilih,

Adapun setelahnya,

Tidak sepantasnya bagi siapa yang telah Allah berikan kepadanya waktu luang, kemampuan, serta minat dalam menuntut ilmu agama untuk bermalas-malasan menuntut ilmu atau ragu-ragu dalam metode menuntut ilmu.

Yang harus ia lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah serta Taufiq-Nya,

Setelah itu ia memanfaatkan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya, dan waspada dari tipu daya iblis juga sikap menunda-nunda.

Diantara bentuk godaan syaithan untuk memalingkan seseorang dari menuntut ilmu:

Sibuknya seorang penuntut ilmu dalam mencari pendapat dan ijtihad yang rajih pada fase awal menuntut ilmu.

Hendaknya anda perhatikan hal tersebut, dan jangan terkecoh dengan orang-orang yang ceroboh.

Sebaliknya, cara yang sesuai dalam menuntut ilmu fiqih, hendaknya seorang pelajar ilmu fiqih apabila melewati sebuah masalah, kemudian ia menganggap bahwa pendapat madzhab dalam masalah tersebut lemah, ia akhirkan pembahasan tentang masalah tadi, dan tidak perlu menyusahkan dirinya yang masih pemula untuk terjun ke dalam khilaf dan meneliti untuk melakukan tarjih masalah,

Karena ia masih belum mampu untuk melakukan hal tersebut.

Sedangkan ilmu itu bertahap dan bertingkat-tingkat, tidak mungkin untuk melompat menuju ke yang lebih tinggi dan meraih puncak sebelum ia melewati tahapannya dan menaiki dari dasar.

Guru kami Doktor Khadr mengatakan dalam Nadzham Qawaidnya:

وكل شيء بالتدرج اكتُسب ### فليس يمشي أبدا من لم يدب

Segala sesuatu itu diraih dengan bertahap

Tidak akan bisa berjalan selamanya, orang yang tidak pernah merangkak terlebih dahulu.

Tahapan ilmu Fiqih ada 4:

1️⃣ Tahapan awal, adalah tahapan memahami gambaran umum permasalahan-permasalahn fiqih, inilah dasar yang paling penting,

Pada tahapan ini, seorang penuntut ilmu mempelajari matan-matan ringkas, lalu berusaha untuk menghafal salah satu dari matan tersebut, serta bersemangat untuk mengetahui definisi dan kaidah dasar dalam suatu masalah, pembagian dan macamnya, masalah-masalah yang mirip serta mengenali perbedaan-perbedaannya, dan semisalnya.

Adapun matan-matan ilmiah yang bermanfaat dalam ilmu fiqih itu banyak sekali dan sudah terkenal serta sudah tersebar, tiap-tiap matan tersebut terdapat kelebihan dan keberkahannya masing-masing.

Hal yang paling penting pada tahapan ini adalah:

Belajar dibawah bimbingan guru yang faham akan apa yang diajar, tulus dalam mengajar, dan bisa menjelaskan dengan baik.

2️⃣ Setelah itu ia berpindah kepada tahapan memahami dalil madzhab yang mu’tamad

Buku-buku yang membahas tentang hal tersebut banyak, diantara buku-buku tersebut yang direkomendasikan:

  1. Syarah At-Tahrir(Tuhfatut Thullab)
  2. Syarah Al-Manhaj(Fathul Wahhab)
  3. Syarah Ar-Rhaudh(Asnal Mathalib)

Ke-3 buku tersebut karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari.

  1. Al-Iqna’ karya Al-Khatib Asy-Syirbini

3️⃣ Kemudian ia naik kepada tahapan memahami dalil-dalil pendapat dalam madzhab (khilaf internal madzhab), diantara buku yang paling mudah untuk dipelajari dalam hal ini adalah:

  1. Mughnil Muhtaj
  2. Al-Muhadzab karya Asy-Syirazy
  3. Asy-Syarhul Kabir karya Ar-Rafi’iy.

4️⃣ Kemudian setelah itu barulah ia beralih kepada tahapan perbandingan madzhab(khilah tingkat tinggi),

Diantara buku-buku rujukan yang paling penting dalam tingkatan ini:

  1. Al-Ausath wa Al-Isyraf karya Ibnul Mundzir
  2. Al-Hawy Al-Kabir karya Al-Mawardi
  3. Al-Bayan karya Al-‘Imrany
  4. Badai’us Shanai’ karya Al-Kasany(Hanafiyah-pent)
  5. Al-Istidzkar karya Ibnu Abdil Barr(Malikiyah-pent)
  6. Al-Mughni karya Ibnu Qudamah(Hanabilah-pent)
  7. Al-Muhalla karya Ibnu Hazm(Dhahiriyah-pent)
  8. Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd(Malikiyah-pent)

Barulah pada tahap ini, penuntut ilmu boleh melakukan ijtihad dalam masalah khilaf, melakukan tarjih pada pendapat yang ia yakini benar,

Akan tetapi tahaoan ini tidak akan bisa sempurna dan benar kecuali ia sudah menguasai 2 ilmu:

  1. Ushul Fiqih
  2. Lughah (Nahwu, Sharaf, Balaghah, dll-pent)

Sebagai penutup, saya sarankan kepada penuntut ilmu pemula untuk langsung mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari dan memulai belajar, serta tidak terlalu sibuk memikirkan cara menuntut ilmu yang tepat, tata cara menuntut ilmu yang tepat, darimana ia harus mulai belajar, kitab apa yang paling bagus untuk dipelajari, dan seterusnya,

Ilmu itu luas, bab pembahasannya banyak, tetapi tujuan akhir semuanya sama.

Oleh karena itu, tentukan target anda, pilihlah guru, mintalah pertolongan pada Allah dan jangan mudah menyerah, fokuslah pada hari ini sebelum esoknya.

Semoga Allah memberikan Taufiq(kemudahan-pent) kepada kami juga kepada kalian dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih,

Shalawat juga salam semoga selalu tercurah pada panutan kita, Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ditulis oleh:
Syaikh Dr. hasan Muallim Dawud

Di kota Madinah An-Nabawiyah

26 Jumadil Akhir 1441 H

Disalin dari FB Ustadz Ilmal Yakin at-Tambuniy