Riyadhush Shalihin (Bab 5, Muraqabah): Merasa Selalu Diawasi Allah

Setiap hamba wajib menjadi pemimpin diri sendiri, senantiasa merasa berada dalam pengawasan Rabbnya, serta menghadirkan kedekatan jiwa terhadap-Nya. Setiap hamba mesti menyadari bahwa Dia mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, sehingga seakan-akan dia melihat Rabbnya; dan meskipun dia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatnya, mengetahui segala hal tentang pribadinya baik yang tersembunyi maupun yang nampak, lahir maupun batinnya, serta tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“…Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…” (QS. Al-Hadiid: 4)

Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama makhluk melalui ilmu-Nya–sedangkan diri-Nya sendiri tetap bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya–di mana pun mereka berada, baik di daratan maupun di lautan, siang maupun malam, di rumah maupun di tempat sepi yang tidak berpenghuni.

Semua itu berada dalam jangkauan ilmu-Nya serta berada di bawah pengawasan dan pendengaran-Nya. Sungguh, Dia mendengar ucapan kalian, melihat keberadaan kalian, serta mengetahui segala rahasia dan pembicaraan kalian.

Lafazh ma’iyyah (dalam ayat: وَهُوَ مَعَكُمْ) bermakna kebersamaan ilmu, bukan kebersamaan dzat. Demikianlah pendapat para ulama Salaf dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari Kiamat.

Hadits No. 61

Riyadhush Shalihin Bab 5 Hadits No. 61

Dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita: “Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi.

Kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya.”

Lelaki itu berkata: ”Engkau benar.” Maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.

Nabi menjawab: ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.” Ia berkata: “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”

Aku menjawab: ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: ”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8] 1  

Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahiih-nya (No. 9). Riwayat ini begitu agung karena termasuk di antara hadits-hadits utama dalam Islam yang menjelaskan intisari agama (syari’at Allah) secara menyeluruh. (Baca juga: Penjelasan Hadits Jibril pada Arba’in An-Nawawi).

Faidah Hadits

  1. Keutamaan bergabung dan belajar dengan para Ulama, serta manfaat belajar al-Qur’an dan as-Sunnah dari mereka.
  2. Dianjurkan bagi pengajar dan penuntut ilmu untuk berpenampilan baik (rapi).
  3. Disunnahkan meminta izin sebelum mendekati guru atau pengajar.
  4. Penjelasan mengenai duduknya murid di hadapan guru. Duduk dalam hal ini hendaknya seperti duduk pada saat tasyahud di dalam shalat.
  5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan Islam dengan amal (perbuatan) anggota badan yang bersifat lahiriah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dan beliau juga menyebutkan beberapa rukunnya.
  6. Adapun Iman, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya dengan keyakinan batin.
  7. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan Ihsan sebagai keikhlasan seorang hamba dalam segala hal batiniah serta menghindarkan diri dari keburukan amal, juga dari kejahatan dan syahwat, serta dianjurkan baginya menghadirkan kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  8. Jika seorang ‘alim (Ulama) ditanya perihal sesuatu yang tidak diketahuinya, maka hendaklah dia menyatakan: “Aku tidak tahu.”
  9. Batasan hari Kiamat tidak diberitahukan Allah kepada seorang pun dari makhluk-Nya karena suatu hikmah yang agung, yaitu agar manusia senantiasa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
  10. Hari Kiamat mempunyai tanda yang banyak, di antaranya: munculnya binatang melata, turunnya ‘Isa ‘alaihis salam, keluarnya Dajjal, dan terbitnya matahari dari arah terbenamnya (barat).
  11. Dua tanda Kiamat dalam hadits ini yaitu: pertama, seorang budak melahirkan tuannya dan kedua orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.

Hadits No. 62

Riyadhush Shalihin Hadits No. 62

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Serta pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: “Hadits ini hasan.”

Pengesahan Hadits

Hadits ini shahih dengan beberapa syahid-nya, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Shahiih Kitaabil Adzkaar wa Dha’iifuhu (1262/994).

Faidah Hadits

  1. Disunnahkan bagi setiap Muslim untuk saling menasihati dan mengingatkan saudaranya, terutama yang berkenaan dengan kewajibannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, diri sendir, dan kaum Muslimin secara keseluruhan.
  2. Diperintahkan kepada seorang hamba untuk selalu ber-muraqabah (merasa di bawah pengasawan Rabbnya) dalam segala keadaan, serta dalam setiap tempat dan waktunya.
  3. Kebaikan dapat menghapus keburukan, namun terbatas pada selain kemaksiatan yang berkaitan dengan hak-hak orang lain.
  4. Salah satu bentuk akhlak yang baik adalah bermuka manis dan berseri-seri, menyingkirkan gangguan, memberikan kebaikan, dan memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan orang lain.

Hadits No. 63

Riyadhush Shalihin Bab 5 Hadits No. 63

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia bertutur; Pada suatu hari, aku berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda: “Hai anak muda, aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu:

Peliharalah Allah, niscaya Dia akan memelihara dirimu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya berada di hadapanmu. Jika kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.

Ketahuilah bahwasanya andaikata seluruh umat (makhluk) bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat (kebaikan) kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukan hal itu melainkan dengan sesuatu yang telah dituliskan (ditetapkan) Allah bagimu. Dan andaikata mereka bersatu padu untuk membahayakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah dituliskan (ditetapkan) oleh Allah bagimu. Al-Qalam (pena) telah diangkat dan (tintanya yang dituliskan dalam) lembaran-lembaran telah mengering.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: “Hadits ini hasan shahih.”)

Dalam riwayat at-Tirmidzi (yang lain) disebutkan: “Peliharalah Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya berada di hadapanmu. Ingatlah Allah sewaktu kamu berada dalam kesenangan, niscaya Dia akan mengingatmu ketika kamu berada dalam kesulitan. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan mengenai dirimu, dan bahwa apa yang harus mengenai dirimu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwasanya kemenangan itu bersama kesabaran, jalan keluar (solusi) itu bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu sungguh terdapat kemudahan.”

Pengesahan Hadits

Derajat hadits ini shahih, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Shahiih Kitaabil Adzkaar wa Dha’iifuhu (1268/1000).

Riwayat yang mulia ini mengandung berbagai nasihat yang menyeluruh dan beberapa kaidah umum dari sebagian masalah penting dalam agama Islam. Sampai-sampai, Ibnul Jauzi menyatakan dalam kitab Shaidul Khaathir: “Perhatianku terhadap hadits ini membuat diriku terkagum-kagum, bahkan hampir saja aku hilang ingatan. Maka sungguh, sangat disayangkan jika seseorang tidak mengetahui hadits ini dan tidak mampu memahaminya.” Hal itu diakui pula oleh al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya, Nuurul Iqtibaas.

Faidah Hadits

Bersambung, insya Allah…

  1. Terjemahan disalin dari: https://almanhaj.or.id/2972-syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan-2.html

Abu Ammar

Ayah dari dua orang anak, Muhammad Ammar dan Muhammad Amru (AmmarAmru.com). Semoga Allah jadikan keduanya menjadi anak yang shalih. Belajar ilmu syar'i kepada asatidz di wilayah Indramayu, dan kuliah online di Islamic Online University.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *