1. Kitab Durushul Lughah digunakan hanya untuk orang non Arab. Untuk mereka yang sejak kecil berbahasa Arab, maka tidak menggunakan kitab Durushul Lughah.
  2. Satuan terkecil untuk membuat kalimat dalam bahasa Indonesia adalah abjad. Dalam bahasa Arab adalah huruf hijaiyah.
  3. Huruf hijaiyah berjumlah 30 jika memasukkan huruf alif dan lam alif. Namun menurut Imam al-Jazariy jumlahnya hanya 29 huruf karena lam alif bukan huruf mabani, tapi huruf ma’ani. Pendapat lain hanya 28 huruf, yaitu tidak memasukkan alif.
  4. Dari huruf akan membentuk kata yang dalam bahasa Arab disebut kalimah. Kalimah yang tersusun akan membentuk kalam.
  5. Kalam berbeda dengan Jumlah. Namun bagi pemula hal ini bisa dianggap sama. Bahasan ini bisa dilihat pada kitab Mughnil Labib.
  6. Jika kita ingin mengi’rab huruf yang hanya satu, misal huruf jar بِ, maka yang disebut harus hurufnya; misalnya yaitu البَاء berposisi sebagai huruf jar.
  7. Kata هَذَا masing-masing huruf dibaca dua harokat هَاذَا.
  8. Huruf ha ( هَ ) pada haadza ( هَذَا ) adalah huruf untuk tanbih (meminta/mencari perhatian). Boleh tidak dibaca sehingga jadi dza ( ذَا ) saja.  Dza masjidun ( ذا مسجد ). Huruf ha ( هَ ) disini bisa diartikan Hai. Maka haadza masjidun ( هذا مسجد ) bisa diartikan, Hai, ini masjid.
  9. Pentingnya mengetahui penulisan kata dalam bentuk asli Arabnya. Bukan setelah proses transliterasi. Misal kitab tidak ada hukum mad pada transliterasi. Seharusnya Kitaabun ( كتاب ). Karena pada beberapa kata akan merubah makna. Misal Jamalun جمل (unta) dengan Jamaalun جمال (bagus/indah).
  10. Huruf A ( أ ) bisa diartikan/digunakan sebagai kata tanya yang berarti apakah. Juga sebagai huruf nida’ (kata panggilan) untuk orang yang dekat/akrab. Misal A Zaidu (Hai Zaidu) dengan harokat akhir dhommah saja, sama seperti huruf nida yaa.
  11. Huruf maa ( ما )ada dua fungsi: maa istifham (untuk bertanya) dan maa nahiyah (untuk menyangkal).
  12. Kata maa ( ما ) digunakan untuk yang tidak berakal. Dan man ( من )untuk yang berakal.
  13. Mubtada bisa dihilangkan jika jawaban telah jelas. Misal: “Siapa ayahmu? Ahmad.” Man abuka? Ahmad. Yang seharusnya “Man abuka? abiy Ahmad.”
  14. Mubtada dan khabar juga bisa dihilangkan jika pertanyaannya dijawab na’am. Misal: A haadza baitun? Na’am. Seharusnya: A haadza baitun? Haadza baitun.
  15. Kata haadza untuk menunjuk benda yang dekat dan dzalika untuk benda yang jauh.

Video 2: Lanjutan Bab 1 dan Bab 2

Kosakata Dars 1 dan 2, Jilid 1, Durushul Lughah

 

Ayah dari dua orang anak, Muhammad Ammar dan Muhammad Amru (AmmarAmru.com). Semoga Allah jadikan keduanya menjadi anak yang shalih. Belajar ilmu syar'i kepada asatidz di wilayah Indramayu, dan kuliah online di Islamic Online University.

Write A Comment