• Materi: Modul 1 Aqidah
  • Pemateri: Dr. Bilal Phillips
  • Live Session: Ustadz Ahmad Wahib
  • Buku Panduan:
    • Pokok-pokok Tauhid (Aqidah Islamiyyah), Dr. Bilal Phillips
    • Syarah Kitab Tauhid, Dr. Bilal Phillips

Pada buku “Pokok-pokok Tauhid (Aqidah Islamiyyah)” terdapat bahasan menarik tentang paham-paham sesat yang menyimpang pada pokok-pokok keimanan. Salah satunya adalah kelompok yang tidak meyakini adanya takdir.

Kelompok ini menganggap bahwa Allah baru mengetahui suatu kejadian setelah kejadian itu terjadi. Mereka juga berpendapat bahwa perbuatan hamba adalah murni karena kehendak hamba dan bukan merupakan kehendak dan ciptaan Allah. Para Ulama memberikan julukan pada kelompok ini dengan nama Qadariyyah.

Mengenal Qadariyyah, Para Pengingkar Takdir

Imam Muslim rahimahullah di awal kitab beliau, Shahih Muslim, meriwayatkan sebuah atsar yang panjang yang mengisahkan kemunculan paham qadariyyah, “Dari Yahya bin Ya’mar, beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali berbicara masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al Juhani. Aku dan Humaid bin ‘Abdirrahman kemudian pergi berhaji –atau ‘umrah- dan kami mengatakan, “Seandainya kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan mengadukan pendapat mereka tentang takdir tersebut”

Kami pun bertemu dengan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang sedang memasuki masjid. Lalu kami menggandeng beliau, satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri. Aku menyangka sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku sehingga akupun berkata kepada Ibnu ‘Umar, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (panggilan Ibnu ‘Umar –pen), sungguh di daerah kami ada sekelompok orang yang berpandangan takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu itu baru ada ketika terjadinya (tidak tertulis di catatan takdir dan tidak pula diketahui oleh Allah sebelumnya –pen).

Maka Ibnu ‘Umar berkomentar, “Kalau kamu bertemu dengan mereka, beritahukan mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi Dzat yang Ibnu ‘Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya mereka memiliki emas sebanyak gunung Uhud lantas menginfaqkannya, niscaya Allah tidak akan menerima infaq mereka tersebut sampai mereka mau beriman kepada takdir” (HR. Muslim) 1

Tokoh-tokoh Qadariyyah

Berikut adalah tokoh-tokoh yang menjadi awal munculnya paham Qadariyyah.

1. Sausan

Imam Al-Auza’i mengatakan, “Yang pertama kali mencetuskan paham mengingkari takdir adalah Susan, seorang penduduk Irak. Ia awalnya adalah seorang Nasrani yang masuk Islam, (namun) kemudian kembali kepada agamanya semula.

2. Ma’bad bin Khalid al-Juhani

Ma’bad adalah murid dari Sausan, seorang penduduk kota Bashrah.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitab Shahih-nya dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Yang pertama kali memelopori (menyebarkan) paham ingkar takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Penduduk Bashrah banyak yang terpengaruh dengan paham sesat ini setelah melihat ‘Amr bin ‘Ubaid mengikutinya. Lihat perkataan Al-Imam as-Sam’ani dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya Imam An-Nawawi, 1/137. 2

3. Ghailan bin Muslim ad-Dimasqy

Ghailan adalah murid dari Ma’bad.

Imam Al-Auza’i mengatakan, “Yang pertama kali mencetuskan paham mengingkari takdir adalah Susan, seorang penduduk Irak. Ia awalnya adalah seorang Nasrani yang masuk Islam, (namun) kemudian kembali kepada agamanya semula. Ma’bad al-Juhani menimba (paham ini) darinya, kemudian Ghailan bin Muslim ad-Dimasyqi menimbanya dari Ma’bad.”  Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnati wal Jama’ah, karya al-Imam al-Lalika-i rahimahullah, 4/827. 3

4. Al-Ja’ad bin Dirham

Al-Jaád adalah murid dari Ghaylan.

Tidak banyak referensi yang mengungkap seluk-beluk Ja’d bin Dirham. Kitab-kitab yang ada tidak menyinggungnya, kecuali sebatas yang berkaitan dengan bid’ah yang dilahirkannya.

Rujukan yang ada menyatakan, ia seorang maula (bukan Arab asli, mantan budak). As Sam’ani, Az Zabidi dan Ibnul Atsir secara jelas menyatakan bahwa ia adalah maula Suwaid bin Ghafiah bin Ausajah Al Ju’fi.

Ibnu Katsir berpendapat, asal usul Ja’d bin Dirham ialah dari Khurasam, Persia. Kelahirannya tidak diketahui. Kalau bukan karena bid’ah yang diusungnya, sudah tentu ia tidak menjadi populer. Sejak kecil, tokoh kesesatan ini tumbuh dalam komunitas yang buruk, yaitu Jazirah Furat. Dalam hal ini, Al Harawi mengatakan: “Adapun Ja’d, ia orang Jazari tulen. Penisbatan ini mengacu kepada daerah nama Jazirah, yang terletak antara sungai Dajlah (Trigis) dan Furat (Eufrat), tepatnya di distrik Harran.”

Sebelum Islam datang, Harran adalah sentral kaum Shabiah musyrikin dan kaum filosif, yang merupakan sisa-sisa penganut ajaran Namrud dan kaum Kan’aniyyun, yang juga menganut perganisme. Mereka adalah para penyembah bintang. Di sana ada sekian tugu sesembahan yang mereka bangun, misalnya, seperti: Al Illah Al Ula, Al Aqlul Awwal, An Nafsu Al Kulliyyah, Az Zuhrah, Uthraid dan Al Qamar.

Demikian aliran kepercayaan penduduk negeri Harran sebelum datang agama Nashara yang kemudian disusul oleh Islam. Keberadaan kaum Shabiah dan kaum filosod masih tersisa, meski Islam telah datang.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kabarnya, ia (Ja’d) termasuk penduduk Harran. Darinyalah Jahm bin Shafwan mengambil pemikiran aqidah yang menafikan (meniadakan) sifat Allah. Di distrik Harran, para tokoh Shabiah, para filosof berccokol. Mereka ini adalah orang-orang musyrik. Mereka menafikan sifat dan perbuatan Allah. Ja’d telah mengadopsi perkataan-perkataan mereka, kaum filsafat dan Shabiah, untuk kemudian menggagas aqidah yang ia yakini Ja’d mengatakan, ‘Sesungguhnya Rabb tidak memiliki sifat kecuali sifat yang buruk,’.” 4

5. Jahm bin Shafwan

Yang saya ketahui bahwa Jahm ini adalah tokoh dari paham Jahmiyyah. Karena materi kuliah saya belum masuk dalam pembahasan Jahmiyyah, saya masukkan dulu di pembahasan Qadariyyah, mengingat bahwa Jahm ini adalah murid dari al-Ja’ad bin Dirham.

Jadi urut-urutannya adalah sbb: Sausan orang nasrani penolak takdir, muridnya adalah Ma’bad bin Khalid al-Juhani, muridnya adalah Ghailan bin Muslim ad-Dimasqy, muridnya adalah al-Ja’ad bin Dirham, dan muridnya adalah Jahm bin Shafwan.

Mengapa Disebut “Majusi Umat Ini”?

Sebutan ini sebenarnya berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ

“Al-Qadariyyah itu Majusi umat ini. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk. Dan jika meninggal dunia, jangan disaksikan (dihadiri) jenazahnya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hadits no. 338 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

Juga sabda beliau:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ مَجُوْسًا وَإِنَّ مَجُوْسَ أُمَّتِيْ يَقُوْلُوْنَ: لاَ قَدَر، فَإِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ

“Sesungguhnya tiap-tiap umat ada Majusinya, dan Majusi umatku adalah orang-orang yang mengatakan tidak ada takdir. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk, dan jika meninggal dunia jangan disaksikan jenazahnya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hadits no. 339 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan al-Qadariyyah dengan Majusi, karena ideologi mereka serupa dengan ideologi orang-orang Majusi dalam hal (dua sumber kehidupan): cahaya dan kegelapan. Mereka (Majusi) menyatakan bahwa kebaikan bersumber dari cahaya sedangkan kejelekan bersumber dari kegelapan, sehingga mereka merupakan orang-orang yang mempunyai dualisme keyakinan.

Demikian pula al-Qadariyyah, mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kejelekan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal Allah subhanahu wa ta’la adalah Pencipta kebaikan dan kejelekan itu, tidak akan terjadi sedikit pun dari kebaikan ataupun kejelekan kecuali dengan kehendak-Nya. Keduanya disandarkan kepada Allah subhanahu wa ta’la dari sisi penciptaan dan disandarkan kepada para pelaku yaitu hamba-hamba-Nya dari sisi yang mengerjakan dan mengupayakannya. Wallahu a’lam.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 1/138—139) 5

Apakah Qadariyyah Dihukumi Kafir?

Para ulama menyebutkan bahwa qadariyyah asli yang muncul pada masa Ibnu ‘Umar telah terkubur. Ibnu Hajar menukil dari Al Qurthubi, beliau mengatakan, “Paham ini telah punah. Kami tidak tahu ada orang belakangan yang menisbatkan dirinya kepada paham ini”

Beliau melanjutkan, “Adapun qadariyyah yang ada saat ini (yakni di zaman beliau hidup –pen) menyakini bahwa Allah telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh hamba-Nya sebelum itu terjadi. Tetapi mereka menyelisihi salaf dengan menganggap bahwa perbuatan hamba adalah hasil kemampuan dan ciptaan hamba itu sendiri (bukan berasal dari kehendak dan ciptaan Allah –pen). Meskipun sama-sama ideologi rusak, tapi ideologi yang kedua kerusakannya lebih ringan dibanding ideologi aslinya”

Karena terjadinya pergeseran arah pemahaman, para ulama membedakan hukum terhadap qadariyyah asli dan qadariyyah yang ada di masa belakangan.

Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily mengatakan, “Para ulama salaf membedakan hukum untuk dua jenis qadariyyah ini. Mereka mengkafirkan qadariyyah asli yang mengingkari ilmu Allah akan sesuatu yang belum terjadi, namun mereka tidak mengkafirkan qadariyyah yang baru muncul di masa belakangan yang menetapkan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang belum terjadi, meskipun mereka tidak menetapkan penciptaan Allah terhadap perbuatan makhluk”.

Abdullah putra Imam Ahmad mengatakan, “Ayahku ditanya : ‘Apakah qadariyyah itu kafir?’ Beliau menjawab : ‘Iya, jika mengingkari ilmu Allah (akan sesuatu yang belum terjadi –pen)’ ”

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Qadariyyah yang mengingkari adanya penetapan takdir dan ilmu Allah dikafirkan oleh para ulama. Namun mereka tidak mengkafirkan qadariyyah yang meyakini adanya ilmu Allah tetapi tidak menetapkan bahwa perbuatan hamba diciptakan oleh Allah”. 6

  1. Baca selengkapnya. https://muslim.or.id/21945-mengenal-qadariyyah-para-pengingkar-takdir.html 
  2.  Baca selengkapnya. https://id.wikipedia.org/wiki/Qadariyah
  3.  Baca selengkapnya. https://id.wikipedia.org/wiki/Qadariyah
  4.  Baca selengkapnya. https://yufidia.com/jad-bin-dirham-aktor-penggagas-penolakan-sifat-sifat-allah/
  5.  Baca selengkapnya.  http://asysyariah.com/al-qadariah-majusi-umat-ini/
  6.  Baca selengkapnya. https://muslim.or.id/21945-mengenal-qadariyyah-para-pengingkar-takdir.html 

Ayah dari dua orang anak, Muhammad Ammar dan Muhammad Amru (AmmarAmru.com). Semoga Allah jadikan keduanya menjadi anak yang shalih. Belajar ilmu syar'i kepada asatidz di wilayah Indramayu, dan kuliah online di Islamic Online University.

Write A Comment