Kajian Kitab al-Fawa’id: Rukun Kekafiran (Ustadz Nasyrul Ulum, Lc)

Kajian Kitab al-Fawa’id: Rukun Kekafiran oleh Ustadz Nasyrul Ulum, Lc –Hafizhahullah
di Masjid an-Nur Karang Malang Indramayu pada Malam Sabtu, 16 September 2017
ditulis ulang oleh Abu Ammar al-Atsary

Ada empat perkara yang bisa membuat orang terperosok ke dalam kekafiran.

Pertama: Sombong (al-Kibru)

Sombong adalah menolak kebenaran dan menghina atau merendahkan orang lain.

Kebenaran (al-Haq) yang dimaksud disini adalah semua yang dikatakan benar oleh Allah sekalipun semua manusia sepakat berkata itu adalah batil. Siapa yang menolak hal ini, maka dia sombong.

Menghina orang lain maksudnya melecehkannya apapun dalihnya, bisa jadi karena kekayaannya, ilmunya, dll.

Kedua: Hasad (al-Hasadu)

Al-Imam as-Shan’ani dalam kitab beliau, Subulus Salam, menjelaskan bahwa yang dimaksud hasad adalah ketika seseorang menyaksikan orang lain mendapat nikmat dari Allah, maka dia tidak suka dan ingin agar nikmat itu lepas dari orang tersebut. Termasuk ketika sebuah ide yang baik datang dari orang lain.

Hasad akan memakan kebaikan. Persis seperti api yang membakar kayu bakar yang kering.

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa orang yang dalam dirinya ada hasad, maka dia akan terhalang dari menerima nasihat dan memberi nasihat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama adalah nasihat.”

Maka seolah orang yang tidak bisa dan tidak mau untuk memberi dan menerima nasihat adalah orang yang tidak ada agama pada dirinya.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu pada kitab beliau al-Aqidah al-Islamiyyah menyebutkan syarat-syarat menjadi muslim yang hakiki salah satunya yaitu menegakkan kewajiban nasihat orang lain, terutama memberi nasihat pada orang yang meminta nasihat.

Buruknya sifat hasad, karena ini adalah salah satu bentuk permusuhan kepada Allah. Misalnya Allah senang memberi sesuatu kepada orang lain, tapi dia tidak senang, maka dia memposisikan dirinya berseberangan dengan Allah.

Ketiga: Pemarah (al-Ghodobu)

Seorang yang pemarah akan terhalang dari bisa bersikap adil. Akhirnya dia tidak adil kepada Allah, maka akan lebih tidak adil kepada manusia.

Keempat: Syahwat (asy-Syahwatu)

Seseorang yang mengikuti syahwatnya bukan pada jalur yang ditetapkan oleh syariat, maka akan terhalang untuk beribadah pada waktu-waktu yang ditentukan.

Kesimpulan

Kesombongan, saat sudah tumbang maka akan mudah bagi seorang hamba untuk tunduk kepada Allah. Hasad, saat sudah tumbang maka akan mudah bagi seseorang untuk menerima dan memberi nasihat. Sifat pemarah, saat sudah tumbang maka akan mudah bagi seseorang untuk menegakkan keadilan. Tegakkan keadilan karena keadilan lebih dekat kepada taqwa. Syahwat, saat sudah tumbang maka akan mudah untuk sabar, untuk menjaga kehormatan dan akan mudah untuk beribadah kepada Allah.

Ibnul Qayyim berkata, orang yang terkumpul padanya empat perkara ini, bahkan sudah menjadi tabiatnya, maka menggeser gunung yang besar, perkaranya lebih mudah dibanding menggeser keempat sifat tadi pada orang tersebut.

Bahkan, orang yang memiliki empat pilar ini atau sebagiannya, dia akan sulit untuk istiqomah. Tidak bisa istiqomah disuatu amalan, bahkan jika sudah bersungguh-sungguh berusaha, maka pilar kekufuran ini akan meruntuhkannya, bahkan akan menimbulkan keburukan yang lain.

Jika empat hal ini sudah menghunjam dalam dirinya, maka yang haq akan dianggapnya batil, sebaliknya yang batil dianggapnya haq.

Jika kita amati bahwa munculnya kekafiran adalah karena empat sifat ini, contohnya adalah yahudi yang tidak mau menerima kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena hasad yaitu ternyata nabi terakhir bukan dari golongan mereka (bani Israil).

Besar kecilnya adzab berbanding lurus dengan besar kecilnya empat pilar ini.

Barangsiapa yang membuka empat pilar ini, maka dia membuka empat pintu keburukan. Maka tutuplah karena siapa yang menutupnya maka dia menutup semua pintu keburukan.

Keempat titik ini muncul karena seseorang memelihara kebodohan dalam dirinya. Sehingga harus diingat bahwa dirinya adalah makhluk yang bodoh, maka dia mengetahui bahwa Rabbnya Yang Maha Sempurna.

Maka jangan pelihara kebodohan, yaitu dengan senantiasa menggali ilmu Allah dalam al-Qur’an dan Sunnah melalui jalan menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan bagi diri sendiri dan untuk mengajarkan kepada manusia dengan senantiasa ikhlas karena Allah.

Abu Ammar

Ayah dari dua orang anak, Muhammad Ammar dan Muhammad Amru (AmmarAmru.com). Semoga Allah jadikan keduanya menjadi anak yang shalih. Belajar ilmu syar'i kepada asatidz di wilayah Indramayu, dan kuliah online di Islamic Online University.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *