Adab Seorang Muslim: Kajian Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA

Menuntut ilmu butuh perjuangan yang berat. Jangan sampai perjalanan panjang kita, waktu yang sudah kita sisihkan, tidak membuahkan hasil.

Kisah Perjuangan Para Ulama dalam Menuntut Ilmu

1. Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu

Jabir bin Abdulloh Radhiyallahu ‘anhu pernah pergi ke Syam (Sekarang Yordania, Palestina, Libanon, Suriah/Damaskus) ditempuh selama satu bulan, untuk mendengar satu hadits, yaitu hadits:

“Dikumpulkannya manusia pada hari kiamat dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki dan belum disunat.”

2. Abu Ayyub al-Anshori Radhiyallahu ‘anhu

Abu Ayyub al-Anshori, yaitu seorang sahabat yang Rasululloh pernah menginap di rumahnya selama 6 bulan, yaitu saat Rasululloh hijrah ke Madinah beliau tinggal dirumahnya. Beliau pernah melakukan perjalanan dari Madinah ke Mesir, untuk mendengar sebuah hadits dari sahabat Uqbah bin Amir, yaitu hadits:

“Barangsiapa yang menutup aib seorang Muslim, maka Alloh akan menutup aibnya pada hari kiamat.”

Perjalanan dari Madinah ke Mesir lebih lama daripada perjalanan dari Madinah ke Syam.

3. Ibnu Thohir

Abu Mas’ud Abdurrahim al-Hajj, seorang ulama, dia mendengarkan Ibni Thohir seorang ulama besar yang berkata:

“Aku dua kali kencing darah ketika mengumpulkan hadits. Pertama di Baghdad, kedua di Makkah. Hal ini karena aku berjalan tanpa menggunakan alas kaki, sedangkan hawanya sangat panas. Aku tidak pernah naik kendaraan ketika mengumpulkan hadits. Aku bawa kitabku di pundakku. Aku tidak pernah minta-minta kepada siapapun ketika menuntut ilmu. Aku hidup dari apa yang datang.”

Menuntut ilmu butuh pengorbanan, semangat. Makan secukupnya apa yang ada, yang penting sekedar menegakkan punggung.

4. Abdurrahman bin Abi Hatim

Abdurrahman bin Abi Hatim. “Kita pernah 7 bulan di Mesir, kami tidak pernah makan gulai (yang ada kuahnya). Siangnya kami berangkat ke Masyaikh yang ada, malam harinya kami menukil dari kitab yang ada dari salinan kami. Suatu hari kami berangkat ke rumah Syaikh. Sampai sana syaikhnya sakit. Kemudian mereka pulang. Dalam perjalanan pulang mereka melihat orang jualan ikan, maka mereka membelinya. Sampai rumah, jamnya sudah masuk jam kajian syaikh lain. Maka ditinggalkan ikan tersebut dan mereka berangkat ke majelis. Dan malamnya sibuk menyalin. Hal ini terjadi selama tiga hari. Akhirnya kami makan mentah-mentah ikan tersebut karena tidak ada waktu untuk mengolahnya, karena kami khawatir keburu busuk.”

Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan berleha-leha.”

5. Syaikh Albani

Syaikh Albani pada awal menuntut ilmu, ketika kebutuhannya sudah tercukupi untuk hari itu dari hasil memperbaiki jam, maka beliau berhenti kerja dan menuntut ilmu. Beliau pernah ke perpustakaan dan tidak memiliki uang untuk membeli kitab. Maka beliau menulis ulang kitab tersebut karena saking ingin memilikinya.

Para ulama dahulu benar-benar membaca, karena mereka harus menulis catatannya di malam hari, memindahkan dari kitab-kitab yang dimiliki oleh guru-guru mereka, karena tidak memiliki uang untuk membeli kitab.

Penuntut ilmu tidak boleh tidur enak.

6. Imam al-Baghdadi

Al-Allamah Nahyi Muhammad bin Ahmad Abu Bakar Khoyyad Al-Baghdadi, semua waktunya untuk belajar bahkan ketika berjalan. Sampai berkali-kali beliau terperosok di lubang karena membaca buku.

7. Syaikh Muhammad Ayyub

Syaikh Muhammad Ayyub, pernah mengimami di Masjid Nabawi. Beliau adalah hafidzul Qur’an, ketika mengendarai Mobil di Jami’ah Islamiyah Madinah, beliau sambil membaca mushaf besar di setirnya untuk dibaca.

Tholibul Ilmi tidak boleh sering-sering wisata kuliner. Makanlah apa adanya.

8. Ibnu Aqil

Ibni Aqil, yang mensyarah kitab Alfiyah Ibni Malik, “Sebisanya aku mempersingkat waktu makanku. Sampai-sampai aku memilih biskuit campur air daripada roti, agar tidak perlu ngunyah. Karena waktu itu bisa untuk membaca dan menulis faidah.”

9. Dawud ath-Tha’i

Dawud Ath-Tha’i Rahimahullahu Ta’ala, beliau makan biskuit yang dihancurkan dengan alasan “Antara ngunyah roti dan minum, itu 50 ayat (yang bisa dibacanya).”

10. Syu’bah ibnu Hajjaj al-Washiti

Ahmad bin Hanbal, “Para ulama yang menuntut ilmu itu, dia jual semua yang ada dirumahnya. Syu’bah ibnu Hajjaj al-Washiti, belajar di tempat Hatam bin Khutaibah 18 bulan. Sampai-sampai dijualnya tiang rumahnya.”

Ibnu Uyainah mengatakan tentang Syu’bah, “Barangsiapa menuntut ilmu hadits itu bangkrut.”

11. Syaikh Hammad al-Anshari

Syaikh Hammad Al-Anshari salah satu ulama sekarang yang menjual apa-apa yang dirumahnya untuk menuntut ilmu.

12. Abu Hatim ar-Razi

Abu Hatim Ar-Razi, beliau seorang ahli hadits yang terkenal. Anaknya berkata tentang bapaknya, bapaknya berkata, “Aku pernah tinggal di Bashrah pada tahun 214 H selama 18 bulan. Beliau ingin tinggal 1 tahun, namun bekalnya habis. Maka terpaksa aku jual pakaianku. Sampai akhirnya habis tinggal yang dipakai. Namun menuntut ilmu tetap dijalankan. Mereka mencari teman selalu, berkeliling mencari hadits. Sorenya beliau pulang ke tempat penginapan untuk menuntut ilmu. Di rumahnya tidak ada apa-apa. Terpaksa beliau minum air karena kelaparan. Besoknya berangkat lagi ke temannya menuntut ilmu, padahal beliau lapar sekali. Besoknya temannya mengajak, maka Abu Hatim mengatakan, ‘aku lemas’. Maka beliau mengatakan, ‘sudah dua hari aku tidak makan’. Maka oleh temannya diberi uang.”

Perjuangan mereka itu berat, demi untuk membenarkan jalan mereka, memperbaiki agama mereka, demi mengharap surga Alloh.

Ja’far ibnu Jastawi’, beliau mengatakan bahwa dulu, ada yang menempati tempatnya di majelis ilmu sejak ashar, dan kencing disitu karena khawatir ketinggalan hadits yang disampaikan.

13. Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad pernah berlari untuk menuntut ilmu. Muhammad bin Ismail ash-Shody mengatakan, “Pada suatu hari dalam perjalananku di baghdad, aku lihat Imam Ahmad sedang lari-lari dan sandalnya dipegang bersama anak-anak yang mengejar syaikh yang sedang menuntut hadits. Maka aku mengejarnya dan berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, apa kamu tidak malu. Sampai kapan kamu akan lari bersama anak-anak itu untuk menuntut hadits.” Maka dijawab Imam Ahmad, “Sampai Mati!”

Bayangkan, seorang Imam besar masih berlari-lari untuk menuntut ilmu.

14. Imam al-Bukhari

Imam Bukhari, dalam Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir menceritakan, Imam Bukhari berkali-kali bangun, menyalakan lampu minyaknya, diambil penanya, ditulis faidah, kemudian tidur lagi. Ada faidah bangun lagi, tulis lagi. Hal itu berulang dalam satu malam sebanyak 20 kali.

15. Yahya bin Sa’id al-Qathan

Yahya bin Sa’id Al-Qathan, “Aku keluar dari rumahku untuk menuntut ilmu sebelum subuh, pulang setelah isya.”

Bulughul Maram Kitabul Jami

Bulughul Maram adalah kitab yang ditulis oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolany yang berisi tentang hukum-hukum, sholat, zakat, puasa, haji. Tapi ada satu hal yang perlu beliau bicarakan. Beliau tutup kitab beliau tentang akhlak. Bagaimana orang yang sudah berilmu, sholat, wudhu, zakat, shaum sudah seperti Rasululloh, bagaimana sekarang mereka berakhlak seperti akhlak Rasululloh.

Imam Ibnu Taimiyyah dalam Aqidah Washithiyyah, pada akhir kitabnya beliau menuliskan bahwa seorang Ahlus Sunnah itu menyuruh kepada kebaikan, menghormati tamu, menghormati tetangga, karena hal itu merupakan aqidah seorang muslim.

Imam Syafi’i berkata, “Termasuk perbuatan bodoh, seseorang yang berburu kzdxeijang, dapat kijang itu, namun tidak diikat. Ilmu itu kalau didengar tapi tidak dicatat maka bisa hilang.”

Kitabul Jami (yang mengumpulkan). Ada 6 bab yang dibahas al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab ini:

  1. Bab Al-Adab.
  2. Bab Al-Birru (Kebaikan) dan Shilah (Silaturrohim).
  3. Bab Zuhud dan Wara’.
  4. Bab At-Tarhib min Masawi-il Akhlaq (Peringatan terhadap Akhlak yang Tercela).
  5. Bab At-Tahrib min Makarimin Akhlaq (Anjuran untuk Berakhlak Mulia).
  6. Bab Adz-Dzikru wad Du’a (Dzikir dan Doa).

Penjelasan Rasululloh sudah wabih (jelas, gamblang).

Bab Pertama: Kitabul Adab (Adab Seorang Muslim)

Bab pertama dari kitabul Jami’ adalah bab adab yang didalamnya berisi hadits-hadits yang menjadi acuan tentang adab seorang muslim.

Hadits Pertama

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-1

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hak Muslim atas muslim yang lain ada enam: apabila engkau bertemu dengannya hendaklah engkau memberikan salam kepadanya, apabila ia mengundangmu hendaklah engkau penuhi undangannya, apabila ia meminta nasihat kepadamu hendaklah engkau menasihatinya, apabila ia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah hendaklah engkau mendoakannya, apabila ia sakit hendaklah engkau menjenguknya, dan apabila ia meninggal hendaklah engkau mengiringi jenazahnya.” (HR. Muslim No. 2162)

Sekilas Tentang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

Beliau adalah sahabat yang paling banyak ilmunya, karena beliau dan Rasululloh bagaikan bayangannya, senantiasa mengikuti kemanapun beliau pergi. Jadi, dalam menuntut ilmu semakin banyak dan semakin lama kita mengikuti guru, maka ilmunya akan semakin banyak, insya Alloh.

Penjelasan Hadits

Hadits ini menjelaskan adab seorang muslim terhadap muslim lainnya berkaitan dengan hak seseorang. Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam, yaitu:

  1. Kalau berjumpa dengannya ucapkan salam. Yang kecil mengucapkan kepada yang besar, yang berlalu kepada yang duduk, yang naik kendaraan kepada yang jalan, yang sendiri kepada yang banyak.
  2. Kalau diundang, jawablah undangannya. Sebagian ulama menyebutkan, undangan disini adalah undangan walimah. Namun pada undangan lainnya sebaiknya juga dijawab. Jika untuk memenuhinya membutuhkan safar, sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak wajib untuk datang.
  3. Kalau minta nasihat, berikan nasihat.
  4. Kalau dia bersin, kemudian dia memuji Alloh, maka hak dia buat kita adalah mendoakannya “Yarhamukalloh” (Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu). Kemudian yang didoakan mengucapkan “Yahdikumulloh wa Yuslih Balakum” (Semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki kondisimu). 1
  5. Kalau sakit, kunjungi dia.
  6. Kalau meninggal, ikuti jenazahnya.

Hadits Kedua

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-2

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Lihatlah kepada orang yang keadaannya berada di bawahmu dan janganlah engkau melihat orang yang keadaannya di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut sehingga engkau tidak menganggap kecil nikmat Allah yang diberikan kepadamu.” (Muttafaqun ‘alaihi) 2

Hadits Ketiga

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-3Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-3

Dari an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan dosa, beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan kejahatan itu adalah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim) 3

Penjelasan Hadits
  1. Alloh telah mengilhamkan di hati setiap manusia suatu nurani di dalam jiwa yang bisa mendeteksi bahwa sesuatu itu dosa. Dan ini berlaku bagi orang yang fitrahnya masih lurus.
  2. Ibnu Daqiq mengatakan, “Bergaul dengan adil, tidak pilih kasih, dan berdebat dengan cara yang santun.”
  3. Imam Syafi’i mengatakan, “Tidak pernah aku berdiskusi dengan orang ‘alim kecuali aku menang, dan tidak pernah aku berdiskusi dengan orang bodoh kecuali aku kalah.”
  4. Kamu itu punya aib yang banyak. Dan tutupilah dengan suka berbagi. Karena suka berbagi termasuk akhlak yang baik. Dan sesungguhnya suka berbagi itu menutup aib yang banyak.
  5. Ketika memberi hukuman harus adil, dan hal itu lebih dekat kepada taqwa.

Hadist Keempat

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-4

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa menyertakan yang satunya. Sampai kalian bergabung dengan orang-orang, karena yang demikian itu dapat membuatnya bersedih.” (Muttafaqun ‘alaihi, dan lafazh di atas adalah lafazh Muslim) 4

Sekilas Tentang Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu

Beliau adalah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Beliau memiliki betis yang kecil. Suatu hari ketika memetik kurma, pakaian beliau tersingkap karena angin. Sebagian sahabat yang melihat tertawa. Maka Rasululloh bersabda, “Sesungguhnya di mizan, dia lebih berat dari gunung uhud.” Hal ini menunjukkan bahwa diri kita dan amal kita akan ditimbang kelak di akhirat.

Hadits Kelima

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-5

Dari ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seseorang mengusir orang lain dari tempat duduknya lalu ia duduk disitu. Akan tetapi hendaklah ia katakan: Berilah kelapangan dan berilah kelonggaran.” (Muttafaqun ‘alaihi) 5

Sekilas Tentang ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma

‘Abdullah bin Umar adalah seorang sahabat yang paling semangat mengikuti Rasululloh. Pernah Ibnu Umar dalam perjalanan, kemudian beliau berhenti untuk kencing di suatu tempat. Ketika ditanya, kenapa dia kencing disana, beliau mengatakan bahwa dahulu beliau pergi bersama Rasululloh, dan Rasululloh kencing disitu.

Penjelasan Hadits

Adab seorang muslim ini juga berlaku terhadap anak kecil. Oleh karena itu, kita tidak boleh kita memindahkannya ke shaf belakang kalau memang dia sudah datang lebih dahulu.

Solusinya adalah melebarkan dan memberikan tempat untuk saudaranya, “Alloh akan lapangkan dada kalian.”

Hadits Keenam

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-6

Dari ‘Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang dari kalian makan, maka janganlah ia membasuh tangannya sebelum ia menjilatinya atau dijilat oleh orang lain.” (Muttafaqun ‘alaihi) 6

Sekilas Tentang Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma

Ibnu Abbas adalah sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits. Ketika masih kecil beliau suka mengaji dengan sahabatnya dari kaum anshor. Sahabatnya mengatakan, “Ya Ibnu abbas, apa kau kira orang-orang akan butuh dengan kamu, sedangkan banyak sahabat kibar yang masih hidup.” Maka sahabat anshor ini berhenti mengaji, sedangkan Ibnu Abbas terus mengaji. Sampai akhirnya banyak sahabat yang telah wafat, ilmunya telah terhimpun di dalam dada ibnu Abbas.

Penjelasan Hadits

Hadits ini menjelaskan adab seorang muslim ketika makan, yaitu tidak mencuci tangan sebelum menjilatnya. Hal ini karena kita tidak tahu dimana berkah makanan itu turun. Ada sebagian ulama yang memberikan komentar pada Subulus Salam, yaitu karena dahulu berkaitan tidak ada/kurang air. Tidak, bukan karena itu, tapi berkaitan dengan berkah. Bahkan saat ada makanan jatuh, Rasulullah menyuruh untuk mengambil makanan tersebut, membersihkannya, kemudian memakannya.

Hadits Ketujuh

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-7

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah orang yang muda memberikan salam kepada orang yang tua, orang yang berjalan kepada orang yang duduk dan rombongan yang sedikit kepada rombongan yang banyak.” (Muttafaqun ‘alaihi) 7

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, “Dan orang yang berkendaraan kepada orang yang berjalan.” 8

Penjelasan Hadits

Hadits ini menjelaskan adab seorang muslim tentang etika memberi salam. Anas bin Malik pernah lewat di depan anak-anak yang sedang bermain, kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka. Murid beliau Sa’id al-Bunani bertanya, mengapa beliau melakukan hal itu. Maka Anas bin Malik menjawab, “Aku melihat Rasululloh mengucapkan salam kepada mereka.”

Hadits Kedelapan

Kitabul Jami' Bab Adab Hadits ke-8

Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila serombongan orang berjalan maka cukup seorang saja dari mereka yang memberikan salam. Dan cukup seorang saja dari mereka yang menjawabnya.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi) 9

Sekilas Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu

Beliau adalah menantu sekaligus sepupu Rasululloh. Dari beliau keturunan Rasululloh bersambung. Karena Fathimah Radhiyallahu ‘anha adalah satu-satunya keturunan Rasululloh yang terus bersambung.

Ali adalah seorang sahabat sangat menghormati Rasululloh, menghormati sahabat Rasululloh. Beliau pernah ditanya oleh anaknya Muhammad Al-Hanafiyyah, “Wahai Bapakku, siapakah orang yang paling mulia (setelah Rasululloh)?” Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Beliau bertanya lagi, kemudian siapa?” Ali menjawab, “Kemudian Umar.” Muhammad Al-Hanafiyyah khawatir yang ketiga akan dijawab Utsman, maka beliau berkata, “Kemudian engkau ya ayahku?” Maka Ali menjawab, “Sesungguhnya aku adalah salah satu dari kaum Muslimin.” (HR. Bukhori)

Pada suatu hari Ali mengunjungi jenazahnya Umar bin Khatthab. Ibnu Abbas ada disitu, kemudian ada orang bersandar ke pundaknya. Orang itu mengatakan, “Aku berharap Alloh mengumpulkanmu dengan dua temanmu, karena aku sering Rasululloh mengatakan, “Aku sedang bersama Abu Bakar dan Umar, aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar.” Kata Ibnu Abbas, kemudian aku lihat siapa yang berbicara, ternyata beliau adalah Ali bin Abi Tholib.

Ali mengatakan, “Aku mengharapkan bisa bertemu dengan Alloh seperti amalanmu (Umar bin Khotthob).

Penjelasan Hadits

Hadits ini masih membicarakan adab seorang muslim tentang etika memberi salam. Yaitu, ketika satu kelompok lewat, cukup satu orang dari kelompok tersebut yang mengucapkan salam, tidak perlu sekelompok. Yang menjawab juga demikian, cukup satu orang saja karena sifatnya fardhu kifayah.”

–menit ke 01:54:15, bersambung insya Alloh–

Rujukan:

  • Shahih al-Bukhari, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, cetakan Pustaka As-Sunnah Jakarta, cetakan ke-1 September 2010.
  • Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram, karya Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, terbitan Darus Sunnah Jakarta, cetakan ke-12 Maret 2016.
  1. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari No. 6224. Bisa Antum lihat di kitab Shahih al-Bukhari Jilid 5, halaman 285, cetakan Pustaka As-Sunnah, Jakarta.
  2. Hadits ini Shahih, riwayat Imam al-Bukhari No. 6490 dan Imam Muslim No. 2963.
  3. Hadits ini Shahih, riwayat Imam Muslim No. 2553.
  4. Hadits ini Shahih, riwayat Imam al-Bukhari No. 6290 dan Imam Muslim No. 2184.
  5. Hadits ini Shahih, riwayat Imam al-Bukhari No. 5270 dan Imam Muslim No. 2177.
  6. Hadits ini Shahih, riwayat Imam al-Bukhari No. 5456 dan Imam Muslim No. 2031.
  7. Hadits ini Shahih, riwayat Imam al-Bukhari No. 6231 dan Imam Muslim No. 2160.
  8. Hadits ini Shahih, riwayat Imam Muslim No. 2160.
  9. Hadits ini Shahih, Shahih Abi Dawud No. 5210.

Abu Ammar

Ayah dari dua orang anak, Muhammad Ammar dan Muhammad Amru (AmmarAmru.com). Semoga Allah jadikan keduanya menjadi anak yang shalih. Belajar ilmu syar'i kepada asatidz di wilayah Indramayu, dan kuliah online di Islamic Online University.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *